Oleh : Aji Rachmat Purwanto

Ular adalah satwa liar berbahaya yang habitatnya paling dekat dengan manusia. Tapi tidak semua ular secara langsung berbahaya bagi manusia. Bahkan ular terbagi menjadi 2 bentuk, yaitu bahaya psikis dan bahaya biologis.

Bahaya Psikis

Bahaya psikis disebabkan karena faktor pradigma/ pandangan/ anggapan/ mitos yang telah tertanam negatif tentang ular di benak kita. Efek bahaya tersebut semakin beresiko dengan munculnya sikap terkejut, takut dan rasa panik yang sangat besar karena bertemu dengan ular. Bahaya psikis ini dapat berakibat fatal jika yang bersangkutan melakukan hal-hal diluar dugaan dan perhitungan saat bertemu ular.

Bahaya psikis dapat diobati. Caranya dengan berusaha untuk lebih mengenal dan mengetahui karakter berbagai jenis ular. Menyaksikan TV, membaca buku, berpikiran positif, akan mempercepat proses menghilangkan bahaya psikis ular pada manusia. Terlebih jika beruasaha mengetahui teknik penanganan ular untuk maksud positif.

 Bahaya Biologis

Bahaya biologis berupa bahaya fisik yaitu gigitan, semburan dan belitan. Bahaya ini muncul karena manusia cenderung mengganggu si ular atau kebetulan berada di lokasi ular sedang mengeram telurnya, atau terinjak. Berdasarkan tingkat bisa (racun) dan efek gigitan terhadap manusia, ular dikelompkkan menjadi tiga bagain :

Tidak berbisa

Ular ini memiliki tipe gigi Aglypha (tidak bertaring) dan tidak memiliki kelenjar bisa. Jika tergigit ular jenis ini hanya akan luka, tidak ada penanganan khusus. Hanya perlu obat antiseptik. Selain tidak berbahaya jumlah dan jenisnya sangat banyak.

Berbisa menengah

Kebanyakan ular kelompok ini memiliki tipe gigi Ophistoglypha, dan memiliki kelenjar bisa. Efek bisa pada manusia adalah pendarahan, demam, perubahan suhu tubuh yang drastis dan cenderung menyebabkan rasa sakit serta pembengkakan di sekitar luka gigitan. Penanganannya, korban hanya perlu diberi suplai makanan dan minuman bergizi, istirahat untuk meningkatkan stamina tubuh.

Berbisa tinggi

Ular ini memiliki tipe gigi Proteroglypha dan Solenoglypha. Jika manusia tergigit kelompok ini, prinsipnya adalah segera keluarkan bisa keluar dari tubuh, hambat laju racun ke jantung serta harus secepat mungkin mendapatkan pertolongan pertama yang tepat dan benar. Bila tidak tertolong dan salah penanganan akan berakibat fatal, kematian. Jika tertolong, biasanya akan meninggalkan cacat atau bekas gigitan. Jumlah dan jenis ular berbisa tinggi lebih sedikit disbanding kelompok yang lain, kecuali semua jenis ular laut yang berbisa tinggi dan sangat mematikan.

Tips Membedakan Ular Berbisa Tinggi dan Rendah

Dalam membedakan ular berbisa tinggi dan berbisa rendah harus teliti dan selalu dilakukan upaya-upaya lebih lanjut, sebab factor ini sering membingungkan dan salah menilai dalam mengamati setiap ciri ular.

Ular berbisa rendah

Gerakannya cepat dan agresif namun takut pada musuh. Aktifitasnya cenderung siang hari (diural). Membunuh mangsanya dengan cara membelit. Bentuk kepalanya bulat telur (oval), tidak memiliki taring bisa, dan gigitannya tidak mematikan biasanya setelah menggigit langsung lari.

Ular berbisa tinggi

Gerakkannya lambat namun percaya diri, dan tenang. Beraktifitas pada malam hari (nocturnal), membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa. Memiliki bentuk kepala segitiga sempurna, bertaring bisa, racun mematikan, dan kanibal setelah menggigit masih tinggal ditempat.

Pengecualian

Selain itu terdapat ciri ular diluar ketentuan umumnya. Ular berbisa tinggi tetapi kepalanya oval, agresif, keluar siang, malam, misalnya ular King Kobra (Ophiophagus hannah) dan ular Kobra (Naja naja sputratix). Ada juga ular berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakkannya tenang, misalnya ular Weling (Bungarus candidus), ular welang (Bungarus fasciatus), ular picung/ Pudak seruni dan semua jenis ular laut. Sedangkan yang tidak berbisa, keluar malam hari dan gerakkannya lamban, contohnya semua jenis ular Phyton dan ular Boa, dan ular pelangi (Xenopeltis unicolor).

Leave a Reply

Your email address will not be published.