Oleh : Adiseno

Tidak ada yang lebih kuat dari kenangan kita masing-masing. Apalagi kenangan masa kecil, akan tertanam begitu kuat. Coba saja Tanya pada kenalan dan teman, apa yang paling mereka ingat. Teman-teman saya yang gemar berpetualang dalam paket wisata semua ingat masa kecil ketika orang tua mereka mengajak mereka menjelajah kawasan desa dan hutan. Mereka semua selamat dan menjadi dewasa, tumbuh tetap menggemari kegiatan alam terbuka.

Jika masih ragu tengok saja buku Kemewahan Gunung yang diterjemahkan dari Bergenweelde karya CW Wormser. Ini pegawai bidang kehakiman masa kolonial abad 20. Ia berkisah tentang perjalanan –perjalanan pendakian di Jawa. Disela-sela tugasnya diberbagai kota. Bab awal yang dia pasang di bukunya mengenai pendakian ke Gunung Gede dengan para Remaja.

Anak-anak itu tumpang tindih tidur di atas rumput kering dan disekitarnya berserakan kacau benda-benda kemah yang dimata anak lima belas tahunan, merupakan suatu pemandangan yang amat menyenangkan. Mereka memakai piyama dengan kaki telanjang, dan menyanyi ketawa dan bercanda. Begitu salah satu paragraph dalam penuturan Wormser.

Pengalaman seperti ini pun bisa dikutip dari para pencinta alam kampus yang bergabung dalam kegiatan Kelana. Ini kegiatan tahunan, dimana anak-anak antara Sembilan dan sebelas tahun dari berbagai sekolah mendaki ke puncak Gede untuk memahami konservasi air. Mereka sebelumnya diajak mengarungi sungai Ciliwung untuk menyaksikan betapa sulitnya mendapatkan air bersih. Dan digunung Gede mereka melihat kawasan sumber mata air Ciliwung itu. Diantara anak-anak yang pernah ikut ini tahun 2001, ada yang sekarang sudah kuliah. Dan ia pun masih meminati kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Sekarang, kegiatan ini dapat kalian rasakan dengan mengikuti paket wisata.

Perlu Pemandu

Perjalanan seperti ini pun bisa dilakukan oleh suatu keluarga. Persyaratan utamanya, sudah tersirat dari ilustrasi diatas. Harus ada anggota keluarga atau anggota kegiatan yang memahami teknik berkegiatan di alam bebas. Jika mengikuti paket wisata biasanya biro perjalanan sudah menyiapkan pemandu selama perjalaan. Pada kisah masa kolonial, Worser lah “pemandu” pendakian. Di kegiatan Kelana, kakak-kakak pencinta alam, dari Pengudi Luhur, Universitas Bung Karno, Universitas Budi Luhur, dan banyak lagi klub kampus di Jakarta yang menjadi pembimbing adik-adik mereka.

Begitu pula dalam merancang perjalanan ke alam bersama anak-anak kita sendiri. Siapa pun yang memimpin harus memahami bagaimana berkemah, menyediakan makan di alam, mampu menentukan arah menemukan jalan dan menghitung waktu tempuh dari anggota terlemah kita.

Jangan dikira anak itu yang pasti jadi terlemah. Anak-anak bisa saja terus bersemangat dan terus berjalan sampai sulit diikuti. Ataupun kebalikannya, mereka bisa mogok sama sekali dan seluruh perjalanan jadi tertunda. Faktor ini harus jadi pertimbangan utama dalam menyusun jadwal kegiatan.

Jika figur alfa, sanga ayah yang biasanya memimpin, bukan menjadi pimpinan perjalanan, maka ia harsu siap untuk menyerahkan kebijakan pada siapa pun yang menjadi pemandunya. Jika tidak, maka suasana perjalanan akan bertambah dengan konflik pertarungan “kekuasaan” antara pimpinan.

Dalam berjalan dengan keluarga mengisi lowong dan sela-sela kegiatan berjalan juga harus dipikirkan. Membawa buku gambar, pinsil warna, dan meminta anak-anak untuk membuat gambar dari pemandangan, satwa yang ditemui, bisa mengurangi kelengangan saat perjalanan tidak maju-maju karena anak-anak kelelahan atau “ngadat”. Dengan adanya kamera digital, ini menambah kesempatan mereka untuk belajar fotografi dengan mengevaluasi langsung hasilnya melalui pemutaran ulang foto-foto yang dibuat. Sediakan daftar objek yang di-“hunting” oleh mereka. Mencatat perjalanan pun bisa mengisi ini.

Bahkan Steve Bezruchka, seorang dokter anggota tim Everest Canada, yang kemudian menuliskan buku Trekking in Nepal, menjelaskan bahwa membawa anak sampai sebulan lebih bertualang di pegunungan Himalaya bisa saja. Mereka tentu meninggalkan sekolahnya, tetapi ia meyakinkan bahwa anak-anak ini akan mendapatkan pengalaman langsung yang lebih dari cukup untuk mengkompensasi ketinggalan mereka menekuni buku di sekolah. Bezruchka bahkan menjelaskan anak-anak ini malah menjadi kunci untuk membuka hubungan dengan masyarakat desa. Begitu pula kita di Indonesia, yang masyarakatnya seperti yang diungkapkan Senator Hillary Clinton dalam bukunya, dibutuhkan komunitas satu desa untuk membesarkan satu anak. Anak-anak kita akan dimanja oleh masyarakat desa, dan kita pun bisa saling berkenalan dan menambah pengetahuan kita tentang kehidupan desa-desa Indonesia.

Memang jika anak Anda masih balita, tidak bisa melakukan pendakian gunung misalnya. Pengalaman saya sendiri membawa anak saya yang balita, hampir seluruh perjalanan harus digendong dengan ransel khusus untuk anak-anak. Ransel seperti ini kebetulan diproduksi pabrik Indonesia untuk Kelty, merek perlengkapan alam bebas AS. Ini artinya, istri Anda, atau anak yang lebih tua harus mengangkut perlengkapan berkemah, makanan dan perlengkapan tidur. Waktu itu saya dibantu dua teman pendaki untuk membawa perlengkapan berkemah kami semua.

Namun ini bukan berarti anak-anak itu harus ditinggal di rumah. Rancang saja perjalanan yang ringan dengan menggendong mereka. Pilih rute yang bisa ditempuh dengan cepat dan ditiap perhentian terdapat fasilitas memadai untuk tidur dan mengurus anak.

Perjalanan antar desa di kawasan Badui bisa jadi pilihan, atau di selatan Ciwidei.

Dan jangan lupa memanfaatkan buku panduan serta peta. Contoh paling baik untuk memanfaatkan buku peta ini adalah Puncak Trek Map Series yang dikeluarkan Wahana Informasi Pariwisata Alam (WIPA) dalam dwi bahasa, Indonesia-Inggris. Ini merupakan peta dan buku petunjuk kawasan seputar Taman Nasional Gede Pangrango. Dibagi dalam sektor-sektor antara lain, Ciawi, Cipanas, Cugenang dan sebagainya. Buku panduan dan peta dicetak dalam kertas yang kedap air dan tidak mudah sobek karena campuran dengan bahan plastik.

Panduan seperti ini cukup memadai untuk bisa melakukan kegiatan dengan keluarga sendiri. Pada saat susah dan senang di alam terbuka ini kita bisa mengenal diri kita sendiri dan pasangan hidup kita. Ini menjadikan keluarga semakin akrab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.