Pendakian gunung Tambora

Gunung Tambora terletak di antara Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Akibat dari letusan dasyatnya pada tahun 1815 gunung ini telah kehilangan separuh ketinggian dari 4.300 mdpl menjadi 2.851 mdpl dan menyisakan kaldera terluas di Indonesia. Menuju pos 3 menjadi titik tersulit dan terseru dari pendakian Gunung Tambora. Selain jalur dengan tingkat kesulitan tinggi yang menjadi tantangan dan harus dihadapi, ada juga jeleteng tanaman gatal, yang juga dikenal dengan sebutan poison ivy, yang menghadang sepanjang jalur menuju puncak hingga jalur batas vegetasi.

Berbeda dengan gunung-gunung pada umumnya, Gunung Tambora tidak terkenal karena ketinggiannya, gunung ini dikenal sebagai the greatest crater in Indonesia. Tak perlu diragukan lagi pemandangan dari atas kawah berdiameter 7 km, kelilingi 16 km serta kedalaman hingga 800 m ini.

Masyarakat setempat mengatakan Tambora berasal dari dua kata yaitu ‘Ta” yang berari orang dan “Mbora” yang berarti hilang. Kedua kata dari bahasa Bima ini menunjukkan betapa dahsyatnya letusan yang menyebabkan banyak korban jiwa dan banyak desa di kaki gunung tersapu debu, batu dan lava panas. Guiness Book of Record mencatat ledakan Gunung Tambora sebagai the greatest eruption in history, menyebabkan penduduk dunia pasca ledakan, pada tahun 1816, mengalami tahun tanpa musim panas.

Secara geografis, gunung ini merupakan salah satu tanda batas antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Untuk mencapai Kawah Tambora terdapat tiga jalur utama yang dapat dilalui yaitu jalur Pesanggrahan, jalur Doro Peti dan satu lagi melalui jalur Desa Pancasila yang merupakan salah satu jalur atau rute yang paling sering digunakan oleh para pendaki untuk mendaki gunung Tambora. Selain Jalur yang akan dilewati tidak terlalu sulit juga karena treknya lebih pendek dibandingkan dengan jalur Doro Peti. Pendakian dapat ditempuh dalam waktu dua hari satu malam, atau empat hari tiga malam. Bagi yang ingin summit usahakan semua barang di packing lalu digantung dipohon agar tidak diaca-acak babi dan jangan meninggalkan tenda dalam keadaan kosong atau meninggalkan makanan diluar tenda, karena di Tambora ini masih banyak babi.

Jalur pendakian hingga pos pertama didominasi oleh perkebunan penduduk. Sekitar sepertiga jalur pendakian berikutnya masuk dalam kawasan hutan. Pada pos pertama terdapat penampungan air yang dialirkan dari sungai yang berada di pos dua.

Pos dua Gunung Tambora menempati sebuah gubuk beratapkan seng yang berdiri di tepi sungai kecil. Suasana tenang di dekat sumber air membuat lokasi pos ini cocok untuk bermalam. Bagi yang mengikuti paket wisata Gunung Tambora dan memiliki waktu pendakian cukup panjang, dapat bermalam di sini.

Pos tiga pun memiliki rumah pondok untuk berteduh. Berbeda dengan pos dua yang berada didekat sumber air, untuk mengambil air di pos tiga, para pendaki harus berjalan 200 m untuk mencapai titik sumber air. Di pos tiga ini juga berkeliaran banyak ayam hutan.

Setelah melewati pos lima, batas vegetasi sudah terlihat. Para pendaki biasa menyebut tempat itu sebagai cemara terakhir, tempat pohon terakhir tumbuh sebelum jalur berbatu menuju puncak. Setelahnya, jalur pendakian didominasi bebatuan dan rumput. Jika tiba pada waktu yang tepat, pendaki dengan paket wisata Gunung Tambora akan disuguhi pemandangan bayangan Gunung Tambora menutupi Pulau Sumbawa.

Touareg Adventure Service menyediakan paket wisata Gunung Tambora. Jika ingin merasakan serunya wisata Gunung Tambora dapat menghubungi Touareg Adventure Service di nomor telepon 08158913334 atau bisa juga melalui email : info@touaregadventure.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.