Siwa merupakan daerah depresi yang membentang  lebih dari 50 km dari timur ke barat. Darioasis Zaytun di ujung timur hingga oasis Al Maraqy diujung barat. Sedangkan panjang dari utara ke selatan adalah 8 km. Beberapa oasis kecil juga menyambung ke Siwa seperti Garet Om Al Saghir, Al Qattra, Al Bahrian, Satra, and Al Arg from the East side, and Al Lig, Al Maraqy, Om Esha, Dahabeuya, om Al Ghazlan, and Shyata dari sebelah barat.

Karena merupakan daerah depresi ketinggian Siwa rata-rata 18 m dibawah permukaan laut. Disini terdapat 6 danau, 200 mata air, 1200 sumur dan 20.000 acre lahan yang ditanami. Kota utama di oasis ini adalah kota Siwa yang berpenduduk sekitar 10000 jiwa.
Iklim di Siwa termasuk iklim continental yang sangat dingin pada saat musim dingin dan sangat pans pada saat musim panas dan sedang pada saat musim semi atau gugur. Oleh karena itu, waktu terbaik untuk mengunjungi Siwa adalah saat musim semi atau musim gugur dimana saat itu juga banyak perayaan dan festival yang diadakan disana.

Setelah Raja Alexander Agung menaklukan Mesir dan menguasai semua wilayahnya, dia mulai membangun kota Alexandria. Saat pembangunan kota sedang berlangsung, dia terpikir untuk mengunjungi Kuil Oracle Amun yang sangat terkenal diseluruh dunia pada saat itu, yang terletak didekat Siwa.

Pada tahun 331 SM Alexander meninggalkan Alexandria untuk menuju Siwa melalui Marsa Matruh hingga akhirnya sampai di Kuil Amun. Tidak seperti Alexander Agung yang dapat mencapai Siwa, Kaisar Persia Cambyses dan 50.000 pasukannya, yang konon ingin mengancurkan kuil ini, semua hilang ditelan badai pasir di gurun Siwa.

Masyarakat Siwa tidak berbicara dengan Bahasa Arab atau Arab-Mesir tetapi berbicara dengan Bahasa Siwan yang merupakan salah satu rumpun Bahasa Berber. Masyarakat Siwa memang merupakan bagian dari suku Berber yang merupakan penduduk asli Afrika Utara disebelah barat lembah Nil. Masyarakat Berber ini tersebar dari Pantai Samudera Atlantik hingga ke Oasis Siwa dan dari pantai laut Mediterania hingga ke Sungai Niger. Beberapa penduduk Siwa juga merupakan keturunan suku Toucouleurs atau Haalpulaar’en yang tinggal di Afrika Barat dan telah mengenal bercocok tanam.

Karena penduduknya yang berasal dari berbagai etnis, oasis selalu dihubungkan dengan budaya suku-suku yang tinggal di gurun Sahara sebelah barat laut Afrika. Oasis Siwa dan oasis lain di Mesir dan Afrika Utara membentuk jalur konvoi unta antara Maroko dan Lembah Nil. Siwa juga dipengaruhi oleh budaya Senousi sampai saat Mohammad Ali memimpin Mesir dan mengirimkan pasukannya untuk merebut Siwa kembali.

Penduduk Siwa sampai saat ini masih mempertahankan adat dan kebiasaannya yang mungkin tergolong sangat konservatif. Para wanita Siwa sangat jarang yang keluar rumah tanpa menutup seluruh bagian tubuhnya termasuk memakai cadar tradisional Siwa yang menutup seluruh wajah kecuali sedikit dibagian mata. Hanya wanita yang belum menikah dan berumur dibawah 17 tahun yang diperbolehkan pergi keluar rumah sedangkan wanita yang sudah menikah sangat jarang sekali pergi keluar rumah. Sebaliknya lelaki Siwa selalu menggunakan baju ghamis putih termasuk juga seluruh pegawai pemerintahan juga memakai pakaian tradisional ini.

Selain masalah desertifikasi (perubahan lahan menjadi gurun) yang juga dihadapi semua oasis di gurun Sahara Afrika, Siwa juga menghadapi masalah air. Hal ini dikarenakan pemakaian air bawah tanah yang melonjak drastis seiring dengan dibukanya investasi besar-besaran dalam pembukaan lahan pertanian selain adanya 5 perusahaan air minum yang beroperasi di Siwa.

Touaregs, beberapa tempat berikut ini merupakan tempat wisata yang ada di Oasis Siwa yang wajib anda kunjungi selama berwisata kesana :

1. Pasir putih panas nya yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit rematik, arthritis dan sakit tulang belakang.

siwa

2. Pemandian yang terkenal ada Cleopatra Bath, Arayes, Moulol dan Hamawat. Air panas di sumur-sumur ini ada dua jenis, air panas biasa dan air panas yang mengandung sulfur yang bisa mengobati beberapa penyakit kulit. Air panas disini juga sering digunakan dalam pengobatan system pernafasan. Pemandian Cleopatra berada di jalur yang menuju Kuil Amun, merupakan kolam pemandian yang berasal dari mata air alam dan dianggap sebagai kolam pemandian terbaik di oasis ini.

siwa

3. Gunung Dakrour di Siwa juga mengandung beberapa mineral yang menghasilkan radiasi yang dapat membantu pengobatan rematik, polio, psoriasis dan system pencernaan. Wisatawan dari seluruh dunia biasanya mengunjungi gunung ini pada bulan Juli sampai Agustus.

dakrour

4. Shaly merupakan nama sebuah kota kuno dan benteng yang berada ditengah oasis Siwa. Kata Shaly yang berarti kota dalam Bahasa Siwan terdiri dari dataran tinggi dengan dua puncak, satu di pojok timur dan satu lagi dipojok barat. Di puncak dataran tinggi ini, rumah-rumah bergaya Karshif, desain konstruksi kuno di Siwa  dibangun. Dahulu Shaly dikelilingi oleh tembok tinggi dengan hanya satu pintu masuk yang berguna untuk melindungi shaly dari serangan suku Berber dan Badui yang tinggal di gurun. Jalan-jalan di Shaly juga sempit dan rumah-rumahnya  berpintu sangat kecil.

shaly
Benteng didalam kota dibuat dari bata lumpur yang dibangun pada abad 12 – 13. Benteng dibangun untuk melindungi kota dari kerusuhan yang terjadi Romawi berkuasa atau melindungi kota dari serangan suku-suku lain untuk merampok makanan dan minuman.

5. Dataran tinggi Aghurmi merupakan tempat kuil Oracle, dataran tinggi yang berada 30 meter diatas permukaan laut ini berbentuk tapal kuda dengan sebelah timur, barat dan utara lebih tinggi dibanding sisi sebelah selatan. Kuil Oracle dibangun pada masa Dinasti ke-26, tetapi kuil ini diyakini sudah ada sebelumnya.

siwa

Kuil ini menjadi sangat terkenal pada masa Yunani dan Romawi.  Saat ini kuil Oracle tinggal puing-puingnya saja. Tembok kuno yang penuh dengan lukisan dan ukiran yang menceritakan tentang kuil ini dengan gambar Dewa amun dan Dewa Amun Ra. Kuil ini juga menjadi sangat terkenal karena kunjungan Raja Alexander Agung yang juga digelari Putera Amun.

6. Gunung Al Mawta berada 1 km diluar kota Siwa dan merupakan bukit yang berbentuk kerucut dengan tinggi 50 m. Gunung ini memiliki tanah yang berkapur dimana sebagian besar kuburan terletak disitu dalam bentuk sarang lebah. Tiap kuburan memiliki koridor persegi yang mengarah pada tempat luas dengan beberapa lubang untuk menempatkan jasad orang yang meninggal.

Terdapat banyak kuburan di gunung ini, kuburan yang paling penting adalah kuburan buaya, kuburan Miso-Isis dan kuburan Si Amun yang  juga merupakan kuburan terindah di tempat ini. Kuburan-kuburan ini berasal dari abad ke-3 SM dan memiliki motif Dewa Nut yang luar biasa. Sayangnya sebagian besar kuburan ini telah dijarah selama beberapa periode, jadi sangat sedikit yang bisa kita lihat hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.