System Dalam Climbing

Ada beberapa system dalam pemanjatan antara lain yaitu Alphin dan Himalaya. Untuk Alphin para pemanjat harus berada dialam bebas, memanjat tebing-tebing yang menjulang tinggi dan melakukan segala aktifitasnya diatas tebing tersebut atau bisa di sebut para pemanjat Flaying camp.

Sementara pada system Himalaya, pemanjatan dapat dilakukan berulang kali oleh pemanjat. Misalnya, ketika memanjat tebing dengan ketinggian 500 meter dan track dinamis, si pemanjat tidak harus melakukan pemanjatan 1 atau 2 hari penuh berada di tebing tetapi dalam teknik ini para pemanjat dapat turun kembali ke base camp dan melanjutkan pemanjatan esok harinya, hanya dengan menggunakan Single Rope Technik (SRT).

Sierra Club, klasifikasi ala Amerika

Ada beberapa kelas / grade tebing yang harus diperhatikan dalam pemanjatan, dan ada dua klasifikasi pemanjatan yaitu, dari Amerika yang dikenal dengan Sierra Club (klasifikasi pada tingkat medan yang dihadapi), adapun tingkatan kelasnya sebagai berikut :

Kelas 1     : Si pemanjat masih bisa berjalan tegak dan tidak diperlukan perlengkapan kaki yang khusus (walking)

Kelas 2     : Tingkat medan sedikit bertambah sulit dan sehingga si pemanjat memerlukan perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu (scrambling).

Kelas 3     : Medan semakin sulit (curam) sehingga dibutuhkan teknik pemanjatan tertentu. Tali-tali pengaman belum diperlukan (Climbing).

Kelas 4     : tingkat kesulitan medan semakin bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk jangkar (Exposed Climbing).

Kelas 5     : Rute yang dilalui semakin sulit, dan peralatan seperti tali, sling, piton, dan lain-lain masih diperlukan sebagai alat pengaman.

Kelas 6     : Tebing tidak lagi memberi pegangan celah, rongga, atau gaya gesek yang diperlukan untuk memanjat. Untuk itu, pemanjatan sepenuhnya bergantung pada bantuan peralatan (Aided Climbing).

Masih bagian dari klasifikasi Sierra Club, Yosemite Decimal System, nama ini diambil dari taman nasional Yosemite yang berada di Nevada, Amerika Tengah dan diakui sebagai kiblatnya para pemanjat tebing akan tebingnya yang curam. Yosemite Decimal System (klasifikasi pemanjatan tebing terjal) yang tahapannya terbagi antara lain :

  1. Ada 2 tumpuan untuk tangan dan 2 untuk kaki dalam setiap gerakan.
  2. Tumpuan kedua tangan dan kaki ada bagi yang berpengalaman, belum tentu bagi pemula.
  3. Gerakan kehilangan satu pegangan tangan atau tumpuan / satu pijakan kaki.
  4. Gerakan kehilangan 2 tumpuan dari keempat tumpuan, atau hanya kehilangan 1, tapi cukup berat.
  5. Gerakan ini hanya mempunyai satu tumpuan yang pasti bisa untuk kaki atau tangan.
  6. Tidak ada pegangan atau tumpuan pada tangan serta kaki, pilihannya adalah berpura-pura ada pegangan dan banyak berdoa, atau pulang ke rumah.
  7. Setelah pemeriksaan yang menyeluruh, disimpulkan gerakan ini tidak mungkin, meskipun ada beberapa orang yang dapat melakukannya. Karena tidak ada pegangan yang dapat dipeluk dengan kedua belah tangan.
  8. Permukaan licin seperti gelasan vertical. Belum pernah ada yang naik, meskipun sedikit orang mengaku pernah melakukannya.
  9. Sama dengan no. 8, tetapi letaknya di bawah overhang.

Grade tebing versi Eropa

Klasifikasi yang kedua adalah berdasarkan Grade (klasifikasi berdasarkan faktor yang mempengaruhi selama pemanjatan). Klasifikasi ini berasal dari Eropa, berikut klasifikasinya :

Grade 1  : bagian yang menimbulkan kesukaran teknik dapat ditempuh dalam beberapa jam.

Grade 2  : bagian yang menimbulkan kesukaran teknik harus ditempuh berkisar satu jam.

Grade 3  : bagian yang menimbulkan kesukaran teknik harus ditempuh sehari penuh. Kesulitan

yang membutuhkan bantuan untuk bisa naik tidak termasuk grade 1, 2, dan 3.

Grade 4  : membutuhkan waktu seharian penuh. Medan tersulit di bawah klasifikasi pemanjatan

tebing terjal tahap 3

Grade 5 : membutuhkan waktu 1,5 – 2,5 hari. Medan tersulit di bawah klasifikasi pemanjatan

tebing terjal.

Grade 6  : biasanya membutuhkan 2 hari atau lebih dengan banyak medan untuk free climbing

maupun artificial climbing.

Lokasi Panjat Tebing Alam Indonesia

Sumatera :

  1. Lembah Harau
  2. Gunung Padang
  3. Serelo

Jawa & Bali :

  1. Ciampea
  2. Kelapa Nunggal
  3. Citatih
  4. Parang
  5. Tebing Gunung Bongkok
  6. Parangtritis
  7. Bukit Tanggul
  8. Sepikul, Watu Limo
  9. Tebing zebra
  10. Uluwatu

Kalimantan

  1. Bukit Kelam
  2. Bukit Tangkiling

Sulawesi

  1. Bambapuang
  2. Bulu Sumpang Siloro
  3. Tebing Sarera

Papua

  1. Carstensz Pyramide, Jayawijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published.